Pastiramai.com - Bacaan Menarik Indonesia

Sabtu, 17 Februari 2018

Mengunjungi klenteng Hok Lay Kiong yang diperkirakan berusia 350 tahun

Mengunjungi klenteng Hok Lay Kiong yang diperkirakan berusia 350 tahun

Klenteng Hok Lay Kiong. ©2018 Pastiramai.com
Pastiramai.com - Klenteng Hok Lay Kiong, yang berada di Jalan Kenari, Kelurahan Marhagayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat ini disebut-sebut berusia sekitar 350 tahun. Tempat peribadatan umat Tionghoa itu pun kini menjadi tempat wisata sejarah.

"Usianya sudah tujuh turunan, sudah ada sejak kakek-nenek, buyut-buyut kami," kata Kepala Seksi Sosial Yayasan Pancaran Tri Dharma yang mengelola klenteng, Sim Hoat Ming atau Ko Miming (52) saat ditemui merdeka.com, Sabtu (18/2).

Tak ada catatan sejarah kapan klenteng itu dibangun. Pun demikian dengan orang-orang tua dulu, kata dia, tak ada yang bisa menyebutkan sejak kapan klenteng tersebut berdiri. Alhasil, hanya bisa diprediksi bahwa klenteng sudah ada pada abada ke-18.

"Banyak dikunjungi baik untuk yang ibadah dua minggu sekali, atau pun pelajar yang melakukan studi," kata Miming.

Klenteng itu berpusat di kawasan Pasar Proyek. Berdiri di atas lahan seluas 2000 meter, khusus bangunan klenteng seluas 500 meter. Ada beberapa bagian klenteng seperti Hio Low di bagian depan berfungsi untuk sembahyang ke Tuhan. Ada rupang tuan rumah di bagian tengah, dan beberapa dewa dan dewi.

Dewa utama adalah Hok Lay Kiong. Dewa lain yang juga sering disembah seperti Tjay Sen Loya untuk meminta rezeki, Dewi Kwan Im Posat bagi yang ingin segera menemukan jodoh, Dewa Hok Tek Ceng Sin yang merupakan dewa bumi. Sedangkan Dewa Kwan Seng Tekun dipercaya dapat memberikan keadilan bagi yang sedang dirundung masalah.

Pada perayaan Imlek Jumat lalu, sedikitnya ada 3000-an pengunjung ke klenteng tersebut. Warga etnis Tionghoa silih berganti datang untuk bersembahyang di sana pada pergantian tahun baru China itu. Jauh sebelum Imlek tiba, klenteng bersolek, lilin berbagai ukuran didatangkan. Puncak Imlek sendiri yaitu dua pekan kemudian, yakni Cap Go Meh.

[eko]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar